
Diare pada anak bisa membuat orang tua khawatir, terutama ketika anak harus bolak-balik ke toilet, kehilangan nafsu makan, atau terlihat lebih lemas dari biasanya. Kondisi ini sering kali dapat ditangani dengan perawatan yang tepat di rumah. Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu risiko dehidrasi atau kekurangan cairan.
Saat mengalami diare, tubuh anak kehilangan air dan elektrolit melalui tinja yang lebih encer dan lebih sering dari biasanya. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, kondisi anak dapat memburuk. Karena itu, orang tua perlu mengetahui cara memenuhi kebutuhan cairan anak, makanan yang sesuai, serta tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis.
Mengapa Diare pada Anak Perlu Diwaspadai?
Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, atau faktor lain, seperti intoleransi terhadap makanan tertentu. Gejalanya dapat berupa buang air besar encer berulang kali, sakit perut, mual, muntah, dan terkadang demam.
Sebagian besar kasus diare akut pada anak dapat membaik dengan perawatan yang sesuai. Meski demikian, anak kecil, terutama bayi, lebih rentan mengalami dehidrasi karena cadangan cairan tubuhnya lebih terbatas.
Oleh sebab itu, jangan hanya berfokus pada seberapa sering anak buang air besar. Hisehat menyebtukan perhatikan juga apakah anak masih mau minum, tetap aktif, dan buang air kecil seperti biasanya.
1. Berikan Oralit untuk Menggantikan Cairan yang Hilang
Salah satu langkah penting saat anak mengalami diare adalah memberikan oralit. Oralit mengandung kombinasi garam dan gula dalam takaran yang tepat untuk membantu tubuh menyerap air dan menggantikan elektrolit yang hilang.
Larutkan oralit sesuai petunjuk pada kemasan. Gunakan jumlah air yang ditentukan dan jangan menambahkan gula, garam, susu, atau bahan lain. Larutan yang terlalu pekat atau terlalu encer dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh.
Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering. Jika anak muntah, berhenti sebentar sekitar 5–10 menit, kemudian coba kembali dengan jumlah yang lebih kecil dan perlahan.
Untuk menentukan jumlah oralit yang sesuai, ikuti petunjuk tenaga kesehatan berdasarkan usia, berat badan, dan kondisi anak. Jika anak terus muntah atau tidak mampu mempertahankan cairan yang diminum, segera cari pertolongan medis.
2. Tetap Berikan ASI dan Cairan yang Sesuai
Jika anak masih menyusu, lanjutkan pemberian ASI sesering yang diinginkan. ASI membantu memenuhi kebutuhan cairan sekaligus memberikan nutrisi yang dibutuhkan anak.
Untuk anak yang lebih besar, air putih dapat diberikan sebagai bagian dari kebutuhan cairan sehari-hari. Namun, air putih saja tidak selalu cukup untuk menggantikan elektrolit yang hilang akibat diare. Karena itu, oralit tetap menjadi pilihan utama untuk rehidrasi.
Hindari minuman bersoda, minuman energi, dan jus yang sangat manis karena kandungan gulanya dapat memperburuk diare pada sebagian anak. Jangan pula memberikan obat antidiare kepada anak tanpa petunjuk dokter.
3. Jangan Membiarkan Anak Kelaparan
Ketika anak mengalami diare, sebagian orang tua memilih menghentikan makanan sementara agar usus beristirahat. Padahal, anak tetap membutuhkan energi dan nutrisi untuk membantu proses pemulihan.
Jika anak masih mau makan, berikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Pilih makanan yang mudah diterima, seperti nasi, bubur, kentang, sup, pisang, telur matang, atau makanan keluarga yang sesuai dengan usia anak.
Hindari memaksa anak makan dalam jumlah besar. Utamakan kecukupan cairan terlebih dahulu, lalu tawarkan makanan sesuai selera dan toleransinya. Jika anak masih mendapatkan ASI atau susu formula, umumnya pemberian tetap dilanjutkan sesuai kebiasaan dan anjuran tenaga kesehatan.
4. Pantau Frekuensi Buang Air Kecil dan Kondisi Anak
Salah satu cara mengenali dehidrasi adalah memperhatikan perubahan kebiasaan buang air kecil. Anak yang kekurangan cairan dapat buang air kecil lebih jarang, dengan urine berwarna lebih gelap.
Tanda lain yang perlu diperhatikan meliputi mulut dan lidah kering, mata tampak cekung, rasa haus berlebihan, tubuh lemas, atau anak menjadi lebih rewel dari biasanya.
Pada bayi, perhatikan jumlah popok basah yang berkurang dan apakah bayi tetap menyusu dengan baik. Catat frekuensi diare, muntah, jumlah cairan yang diminum, serta perubahan perilaku anak. Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan menilai kondisinya.
5. Jaga Kebersihan untuk Mencegah Penularan
Diare akibat infeksi dapat menyebar melalui tangan, makanan, air, atau permukaan yang terkontaminasi. Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah membantu anak buang air besar atau mengganti popok, serta sebelum menyiapkan makanan.
Bersihkan toilet, tempat mengganti popok, dan permukaan yang sering disentuh. Pastikan makanan diolah dengan higienis dan air minum berasal dari sumber yang aman.
Ajarkan anak mencuci tangan setelah menggunakan toilet. Langkah sederhana ini membantu mengurangi risiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.
Kenali Tanda Bahaya Diare pada Anak
Jangan menunggu diare berlangsung berhari-hari jika anak menunjukkan tanda bahaya. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kondisi berikut:
- Sangat lemas, sulit dibangunkan, kebingungan, atau mengalami penurunan kesadaran.
- Tidak mampu minum atau menyusu, atau selalu memuntahkan cairan.
- Buang air kecil jauh lebih sedikit daripada biasanya.
- Mulut sangat kering, mata cekung, atau muncul tanda dehidrasi lainnya.
- Tinja berdarah atau berwarna hitam seperti aspal.
- Sakit perut hebat, demam tinggi, atau kondisi yang terus memburuk.
Bayi berusia di bawah enam bulan, terutama jika mengalami diare berulang, muntah, demam, atau kesulitan menyusu, perlu mendapat penilaian medis lebih awal. Pada bayi di bawah tiga bulan, suhu tubuh 38°C atau lebih memerlukan pemeriksaan medis segera.
Jika anak tampak sangat lemah, sulit dibangunkan, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat, segera cari pertolongan darurat.
FAQ Seputar Diare pada Anak
Apakah anak yang diare boleh minum oralit?
Boleh. Oralit digunakan untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Larutkan sesuai petunjuk kemasan dan berikan sedikit demi sedikit.
Apakah ASI harus dihentikan saat bayi mengalami diare?
Tidak. ASI umumnya perlu dilanjutkan sesering yang diinginkan bayi. Jika bayi sulit menyusu atau menunjukkan tanda dehidrasi, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Makanan apa yang cocok untuk anak yang sedang diare?
Berikan makanan sesuai usia, seperti bubur, nasi, sup, pisang, atau telur matang. Sajikan dalam porsi kecil dan jangan memaksa anak makan.
Bolehkah memberikan obat antidiare kepada anak?
Jangan memberikan obat antidiare tanpa arahan dokter. Penanganan yang tidak tepat dapat berisiko, terutama pada bayi dan anak kecil.
Kapan anak yang diare harus dibawa ke dokter?
Segera cari pertolongan jika anak tidak mampu minum, buang air kecil sangat sedikit, mengalami tinja berdarah, tampak sangat lemas, atau menunjukkan tanda dehidrasi. Pemeriksaan juga diperlukan jika kondisi memburuk atau orang tua merasa khawatir.
Kesimpulan
Diare pada anak membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk mencegah dehidrasi. Berikan oralit sesuai petunjuk, lanjutkan ASI, sediakan makanan yang sesuai usia, dan pantau kondisi anak secara berkala.
Yang terpenting, kenali tanda bahaya sejak dini. Jika anak tidak mampu minum, sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat, jangan menunda mencari pertolongan medis. Perawatan yang tepat dan respons cepat dapat membantu menjaga keselamatan anak selama masa pemulihan.
